Author : Erinsa Bella
Cast : Kwon Jiyong
Jung Hani (OC)
Genre : #Idon’tknow :D
****
Aku lebih suka menyendiri, karena mereka semua tak ada yang bisa
memahamiku. Mereka hanya memanfaatkan kekayaan ku.
Ya, aku adalah anak seorang pengusaha yang sangat sukses dan
keluargaku termasuk orang terkaya di Korea. Meskipun begitu, aku sama sekali
tidak bahagia. Orang tua ku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka tanpa
menghiraukan ku, sesungguhnya aku tidak membutuhkan semua uang ini, aku hanya
butuh kasih sayang. Hanya itu..
****
“Nona, anda ingin ke mana?”
“Seperti biasa.”
10 menit berlalu. Perjalananku berakhir di sebuah cafe di sudut jalan. Aku turun dari mobil dan masuk kedalam cafe itu. Jangan menilai dari penampilan luarnya saja. Kau takkan percaya saat melihat bagian dalamnya. Furniture sederhana bernuansa pedesaan beserta alunan musik klasik tahun 60 an semakin menghidupkan suasana.
Aku berjalan menuju meja paling sudut. Dimana aku biasa berdiam diri selama berjam-jam dengan hanya ditemani secangkir kopi. Menikmati suasana di kedai itu.
Pemandangan yang sama setiap harinya. Orang-orang tertawa gembira,
saling bersulang, dan
senyum yang cerah.
senyum yang cerah.
Mereka lebih beruntung.
Daripada aku.
Sepertinya hanya ada satu orang saja yang hanya bisa memandang orang-orang yang bahagia, sedangkan ia merasa sangat kesepian. Tidak ada yang peduli. Seperti patung yang rapuh berdiri di sudut ruangan. Tidak tersentuh maupun dihiraukan.
Seorang laki-laki berperawakan tinggi. Memakai mantel coklat. Bibirnya sedikit tebal namun mungil, matanya sendu, tapi masih tampak tajam, hidungnya pun mancung, memperindah wajah tampannya.
Ia mendekat ke meja ku. Apa yang ia lakukan? Setiap langkah kakinya yang mantap. Aku hanya melihat nya sekejap lalu mengalihkan pandanganku.
Dia semakin mendekat.
"Hei, boleh aku duduk disini?"
Tubuhku kaku. Rasanya sangat sulit walau hanya untuk menggerakkan
kaki.
"B-bo-bo.. boleh."
Aku mulai memberanikan diri untuk menatap mata laki-laki itu. Sebenarnya aku sudah sering melihatnya disini, dia juga sering menatapku diam-diam. Tapi aku tidak menghiraukannya. Dan sekarang, aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Dia menarik kursi yang tepat berada dihadapanku dan duduk perlahan. Aku hanya terdiam menatapnya walau sebenarnya jantungku sangat berdebar.
"Apa aku mengganggumu?"
Aku menggeleng cepat. Dia hanya tersenyum simpul.
"Eh.. sebenarnya aku sudah lama melihatmu disini. Aku ingin berbincang denganmu dari dulu. Tapi baru sekarang aku mendapat keberanian. Haha.. ah.. ya.. hmm.. siapa.. namamu?"
Laki-laki itu terlihat gugup. Nampak dari tangannya yang sedari
tadi menggaruk kepalanya yang sepertinya sama sekali tidak gatal.
"Aku.. a-aku.. namaku Hani. Jung Hani."
Aku tersenyum. Tanpa sadar aku sudah membiasakan diri dengan
situasi ini.
"Kau?"
"Aku Jiyong. Lebih lengkapnya Kwon Jiyong."
Kami saling menatap.
Jadi begini. Rasanya menyenangkan sekaligus mendebarkan. Aku mulai membuka diri untuk orang baru.Yang sekarang ini sedikit berbeda, ada seberkas kedamaian didalamnya.
Kwon Jiyong..
Aku menunggu saat-saat seperti ini. Saat jantungku serasa berdetak tak biasa. Seperti ada sesuatu yang berbeda.
****
Kami berdua berjalan menyusuri trotoar jalan. Jiyong adalah
seorang pria yang baik, ia juga sangat sopan. Sudah satu bulan kami sering menghabiskan waktu bersama-sama, walau hanya untuk
sekedar berbincang dan jalan-jalan. Haha.. kami seperti sepasang kekasih.
Tidak seperti biasanya, ekspresi ku mulai berubah. Segaris senyum selalu tergambar jelas di wajahku, diiringi tawa yang tak henti-hentinya bersuara. Suasana mulai berganti cerah, seperti matahari yang sepertinya baru kusadari artinya, setelah ia datang ke hidupku. Semuanya mulai berbeda.
“Jiyong, apa tujuan hidupmu?”
Pria itu menghentikan langkahnya lalu menatapku.
“Untuk.. bahagia.”
“Sesingkat itu kah?”
“Untuk apa jawaban rumit untuk pertanyaan yang sederhana? Semua itu tergantung padamu, bagaimana kau menikmati hidup. Asalkan kau bahagia, semua jadi mudah.”
Jiyong mulai melanjutkan langkahnya dengan santai, ia merentangkan
tangannya lebar-lebar dan tersenyum. Aku menyeimbangi langkahnya.
“Tapi.. bagaimana caranya untuk.. bahagia?”
“Seperti yang kubilang, semua itu tergantung padamu. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia, kalau bisa, buat orang lain yang kau sayangi juga bahagia.”
“Begitukah? Baiklah, karena kau adalah satu-satunya temanku, aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia.”
Pria itu menghentikan langkahnya lagi, lalu memandangku lekat.
“Kenapa begitu?”
Aku tersenyum sambil menatapnya.
“Karena bila kau bahagia, aku pun bahagia. Bukankah seperti itu?”
Jiyong tersenyum manis dan menatapku. Ia mulai mendekatkan
tubuhnya.
Lalu perlahan, ia memelukku.
Di hadapan orang banyak, ia memelukku.
Jiyong.. ia.. ia memelukku..
Memelukku.
Tubuhku terasa kaku, lalu kuputuskan untuk membalas pelukannya,
lebih erat.
“Jiyong..”
“Hm?”, balasnya sambil tetap memelukku.
“Apakah ini yang kau maksud?”
“Ya. Ini yang kumaksud, ini kulakukan untuk membuktikan bahwa aku akan membuatmu bahagia. Dan juga.. aku ingin membuktikan bahwa kaulah orang yang kusayangi.”
Bibir ku masih membisu, tak mampu melontarkan kata-kata.
“Aku menyayangimu, Hani.”
“Ak-aku.. aku juga.”
****
Mulai saat itu, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Jujur,
sebenarnya ini sangat mengejutkan, karena ia tiba-tiba datang ke hidupku dan
membuatku merasakan apa itu bahagia. Dan entah mengapa, dengan ajaib, ayah dan
ibuku mulai memperhatikanku. Mereka memberikanku kasih sayang yang selama ini
kuimpikan.
Sejak hadirnya Jiyong, semua yang kuharapkan menjadi kenyataan.
****
"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak henti-hentinya aku mencintai. Dan, apa yang kucintai kini, akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat kucapai, dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya."- Kahlil Gibran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar