![]() |
| You.. |
Sebenarnya aku tidak ingin menyangkal
kebenaran bahwa aku menyukaimu. Tidak, aku sangat sangat menyukaimu. Bahkan aku
dibuat gila olehmu. Tidak peduli seberapa besar kamu menyakiti ku, luka itu
takkan bertahan lama. Aku sudah kebal terhadapmu.
Mereka bilang, aku telah menyakiti
banyak orang hanya karena aku tidak bisa melupakanmu. Lebih tepatnya, aku tidak
bisa hidup tanpa melihatmu. Aku akan gelisah dan merasa ada yang kurang.
Selama ini, aku tak pernah
menghiraukan siapapun yang melarangku untuk menyukaimu. Aku tidak mengerti dan
tidak peduli. Apa salahku menyukaimu? Apa rasa sukaku ini merugikan orang lain?
Aku akan berubah menjadi orang yang
egois saat ada moment tertentu yang kamu lakukan sehingga membuatku
tergila-gila. Aku akan benci kepada perempuan lain yang menyentuhmu, menatapmu
dan berada dekat denganmu. Aku cemburu. Sangat cemburu. Karena aku tidak
sanggup seperti mereka, yang secara bebas bisa berinteraksi denganmu, tanpa
basa-basi yang selama ini membuatku merasa muak.
Kadang perlakuanmu membuatku marah
dan kesal, tapi karena wajahmu yang sok polos itu melarangku. Aku selalu saja
kalah dan akhirnya tidak bisa benci padamu. Jujur, aku sebenarnya tahu bahwa di
lubuk hatimu yang paling dalam, kamu masih menyukaiku. Hanya saja ada suatu
alasan yang membuatmu selalu menyangkal. Dan itu yang sangat ku benci.
Sering kali kamu menatapku. Tapi di
dalamnya terdapat suatu perasaan yang sulit diartikan. Aku berusaha memahami,
tapi aku terlalu bodoh. Aku tidak memikirkan arti dari tatapan itu dan terlarut
dalam kedamaian itu. Kamu selalu begitu, membuatku melayang tinggi namun
kemudian menghempaskan ku dengan tiba-tiba. Bila kamu tau, itu sungguh menyakitkan.
Aku ingin sekali, suatu saat, aku
bisa menatap langit malam yang penuh bintang bersamamu. Karena aku yakin, kamu
adalah pelengkap indahnya pancaran bintang itu. Dan tiupan angin adalah lagu
terindah yang mengiringi debaran jantungku saat menatapmu. Kamu tau? Aku selalu suka saat kamu tersenyum. Kamu
selalu membuat senyum itu menjadi sangat berharga setiap detiknya.
Andai saja, kamu mau mendengarkan
curahan hatiku seperti yang ku tulis saat ini. Meskipun kamu tidak mau
menanggapinya, setidaknya kamu sudah mendengarnya. Secara tidak sadar kamu
sudah menyimpannya dalam memorimu. Dan itu akan bertahan meskipun tidak
selamanya.
Aku hanya ingin kamu dengarkan.
Perasaanku selama ini sebenarnya masih kupendam dalam-dalam. Aku cuma menginginkanmu
untuk mencurahkan semua. Tapi rasanya sulit sekali sampai aku ingin mati.
Aku tahu, perasaan bodoh ini tidak
akan abadi. Mungkin saja nantinya aku akan lupa karena terlalu kamu abaikan.
Sebenarnya bukan lupa, tapi hanya tersembunyi di sudut hatiku yang gelap. Gelap
karena lama sekali tidak disinari pancaran bintang mu itu.
Setidaknya aku sekarang sudah
bahagia karena bisa melihatmu setiap harinya. Entah bagaimana bila nanti kamu
tidak bisa kulihat lagi. Semua bisa saja terjadi tanpa sepengetahuan kita,
bukan?
Oh, maaf.
Bukan ‘kita’, tapi hanyalah ‘aku’.
Hanya aku.
Tanpa kamu..
“R”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar